Entah kenapa saya sangat suka bersosialisasi. Inikah cara
saya bersyukur? Saya tidak pernah mengerti dan mengaitkan itu. Kebanggaan saya
hanya ada dua hal. Bukan bisa membeli barang mahal dengan hasil sendiri, atau pergi
ke tempat elit untuk ngebeer atau semacamnya. Tapi, saya bangga, ketika mendapat
satu kursi di pertemuan dengan para wakil rakyat. Bukan karna ‘siapa Opa saya’
tapi karna saya mendapat kesempatan
untuk mewakili remaja Indonesia dan berdiri di hadapan puluhan anak yang putus
sekolah atau orang tua yang tidak mementingkan pendidikan. Saya bukan orang
hebat, saya juga bukan anak yang sangat baik. Namun saya selalu berusaha untuk itu.
Pandangan mata ini, lebih indah memandang puluhan anak
disamping bantaran sampah sedang duduk membaca buku atau menulis. Memang bukan
buku yang layak, tapi pengetahuan tingginya lah yang membuat saya sangat
tercengang. Bahkan lebih tercengang dari pada melihat lelaki sebaya saya
membawa mobil evolution10.
Saya lebih memilih untuk mengajar secara sukarela disebuah
sekolah bergedung mini dengan fasilitas yang mini juga. Ketimbang saya di bayar
jutaan untuk membela kesalahan. Tidak sedikit issu yang lewat difikiran orang
lain bahkan teman saya sendiri. Tentang alasan mengapa saya selalu hadir
disetiap pertemuan digedung yang paling dipandang oleh rakyat. Saya diundang
karna mereka memerlukan saya untuk membantu membuat Negara ini maju dan
kebetulan sama dengan tujuan cita-cita saya. Saya tidak menanggapi apa yang orang bilang diluar sana, karna itu hanya omongan seseorang yang juga
ingin berdiri ditempat saya tapi tidak mendapatkan kesempatan itu, atau mungkin
itu cara mereka bangga dengan saya haha sedikit bodoh sih memang, tapi itu lah
manusia. ‘tidak bisa melihat orang lain lebih hebat dari dirinya’ dan itu sudah
sangat biasa.
Bukan karna apa kedudukan Opa saya, tapi karna Koran lah
yang mengajarkan saya bagaimana saya harus menyikapi Negara ini, dan koran
selalu memberi informasi kepada saya bagaimana perkembangan dunia ini. Itulah pelajaran yang
lebih hebat dari sekolah. Apa disekolah diajarkan tentang bagaimana mengubah Negara?
Mungki n hanya dengan poster yang ditulis dididinding sekolah “jangan membuang
sampah sembarangan” dan sanyangnya tidak dihiraukan.
Saya memutuskan hubungan persahabatan saya dengan dunia
glamour mungkin membuat saya kehilangan banyak teman. Tapi saya punya ratusan
anak didik yang butuh senter untuk terus berjalan melawan zaman dimasa depan. cerita mereka lebih bermanfaat dari gossip dimall atau tempat
elit lainnya. Tidak banyak teman bisa menghargai temannya, tapi disini saya
merasa sangat dihargai karna perlakuan saya sebagai guru yang sangat mencintai
mereka. Dan itu benar. Mereka tidak memberi saya hadiah mewah seperti apa yang
saya dapatkan dari teman-teman saya, tapi mereka memberi saya pelajaran bagimana
mensyukuri sebuah kehidupan yang cukup.
No comments:
Post a Comment